Minggu, 08 Juni 2008


Ad Libitum


masih adakah yang ingin kausampaikan?
”rindu” katamu

jejak rasa yang kausimpan masih membekas
menoreh retak menggores koyak

akan seperti ini teruskah kita tak henti-hentinya berjalan
membuka rasa menduga-duga

kenapa tak kautakan saja
supaya semua menjadi nyata

keretamu telah berangkat
kenangkan aku selama perjalanan
jika nanti pulang jangan lagi berkata ”tidak”

Rabu, 04 Juni 2008


Rembulan lan Srengege

wis suwe dak anti-anti, godong turi dadi trembesi

dak luru terus turut lurung,

nanging kang ana mung godong lembayung

kadingaya temen aku nganti gemblung,

yen digagas sangsaya agawe wuyung

dik, wis suwe aku tansah gegandrung, nenangi rasa kang wus kadung

ora sembada nanging tambah bingung

nganti sasen-sasen dadi tahun, kok yo getun kok yo destun

rasane kaya kamanungsan, dadi atiku kaya ketaman

sajak ewuh mbuh ra weruh, wola-wali tansah dak rasa

amarga mankono aku dadi gila

ora ana wong kang coba ngerti, yen kabeh kedadeyan bakal gumanti

ana padang ana peteng, kang ilang agawe emeng

dadi palupi kuta saindeng, siji-siji ning uga bareng

mangkono linuding kidung, mbanyu mili datan dumunung

sangsaya adoh sangsaya agung, amung kita kang bisa mbendung

rasaku tansah kapang-kapang, wiwit esuk nganti srengege gumlewang

ing kulon langit saya abang, agawe atiku melang-melang

wis rada suwe aku ngayahi tugas, nanging kabeh tan ana kang tigas

mung setengah-setengah, sangsaya suwe sangsaya agawe susah

mbuh kapan bisa kabengkas, supaya uwal saka rasa was-was

Selasa, 03 Juni 2008


Jazz Impromtu itu adalah Kebudayaan yang Berkejiwaan


Kebudayaan

Inggris: culture; dari bahasa Latin cultura¾dari colere (mengolah, mengerjakan tanah)

Beberapa pengertian

Kebudayaan merupakan seluruh nilai material dan spiritual yang diciptakan atau sedang diciptakan oleh masyarakat selama sejarah.

Kebudayaan semula berarti pengolahan dan pengembangan kemampuan-kemampuan manusiawai yang melampaui keadaan alamiah semata (kebudayaan sebagai pendidikan rohani). Dunia kuno dan Abad Pertengahan menyebut ini sebagai humanitas, serta civilitas. Dalam abad ke-17 dan ke-18 konsep kebudayaan diperluas.

Pada saat ini kebudayaan dipakai untuk mengartikan apa yang manusia tambahkan pada alam, entah di dalam dirinya sendiri ataupun dalam obyek-obyek lain (kebudayaan sebagai jumlah keseluruhan benda-benda kebudayaan). Dengan demikian, kalau alam menandakan apa yang lahir bersama manusia dan apa yang ada di luar dirinya tanpa kerja samanya, kebudayaan mencakup segala sesuatu yang merupakan akibat dari aktivitas manusia yang sadar dan bebas. Bagaimanapun majunya manusia dalam mengembangkan kebudayaan namun pada akhirnya tetap berakar dalam alam; dan kebudayaan menemukan tujuannya yang tepat dalam kepenuhan dan kesempurnaan kodrat manusia; sementara alam merupakan determinan hakiki bagi arah dan luasnya aktivitas kebudayaan. Suatu perkembangan kultural yang bertentangan dengan hakikat manusia, tidak benar, tetapi semata-mata merupakan kebudayaan yang salah.

Istilah kebudayaan adakalanya digunakan untuk merangkum semua ungkapan kreatif manusia dalam semua bidang usahanya. Kadang kebudayaan dibatasi pada ungkapan kreatif dalam bidang artes liberales (pengetahuan humaniora). Dalam arti kedua, istilah ini kadang kala diperluas ke pengembangan kepribadian. Walaupun istilah itu digunakan baru abad ke-18, terdapat anteseden-antesedennya pada zaman Yunani.

Beberapa pembedaan

Tergantung apakah aktivitas kultural tertentu terarah langsung atau tidak pada pribadi manusia dan kesempurnaannya, atau pada obyek-obyek yang ada secara independen darinya, maka dibuat suatu pembedaan antara kebudayaan personal (seperti bahasa, kehidupan komunitas, ilmu, moralitas, agama) dan kebudayaan material (seperti teknologi, seni). Meskipun begitu, sebagaian besar aktivitas budaya sesungguhnya mencakup kedua bidang tersebut. Sementara kebudayaan dalam arti yang lebih luas mencakup baik moralitas maupun agama, dalam arti yang lebih sempit ia berpijak pada keduanya. Dan kemudian kebudayaan menunjuk perkembangan budaya yang terarah kepada tujuan-tujuan di dunia ini. Kebudayaan yang semata-mata material serta eksternal disebut (paling sedikit di Jerman) sebagai peradaban (sivilisasi). Ia berfungsi sebagai landasan kebudayaan rohani, internal. Sejauh peradaban dikembangkan dengan mengorbankan kebudayaan batin, peradaban belum merupakan kebudayaan sepenuhnya dan sesungguhnya bertentangan dengan kebudayaan sejati.

Perlu juga dicatat bahwa hanya benda-benda kebudayaan eksternal dapat diwariskan. Benda-benda budaya ideal dan personal harus diperoleh secara baru oleh setiap generasi. Pemilikan kebudayaan hanya dapat diperoleh sebagai hasil dari uasaha keras. Namun, waktu senggang juga sangat perlu bagi perkembangan umum daya manusia. Waktu senggang jauh lebih dari sekadar waktu bebas belaka. Waktu bebas ialah waktu yang dibiarkan berlalu tanpa kerja. Selanjutnya waktu senggang mengandaikan bahwa kebutuhan-kebutuhan material-pokok dari manusia diperhatikan. Atau, sejauh ini mungkin, waktu senggang mengandaikan manusia secara bebas menentukan untuk tidak memuaskan beberapa diantara kebutuhan-kebutuhan itu.

Kebudayaan semata-mata merupakan hasil kerja sama individu dalam masyarakat/komunitas manusiawi. Dari sumbangan kebudayaan-kebudayaan nasional yang berbeda, muncul suatu kebudayaan manusia umum yang kemungkinannya dokondisikan oleh kemampuan bahasa bagi manusia untuk terus hidup.

Pandangan beberapa filsuf

Plato dan Aristoteles dalam Akademi dan Liseum mendirikan pusat-pusat produksi transmisi bentuk-bentuk kebudayaan dalam arti kedua di atas.

Mashab Zynicisme, ketika beralih dari masyarakat manusia ke alam, menganggap kebudayaan manusia dalam kedua arti diatas sebagai merosot dan rusak. Kaum Stoa membatasi kodrat tanggapan mereka pada masyarakat. Tetapi dalam Stoisme muncul suatu pengertian mengenai kebudayaan dunia. Kita adalah warga alam semesta, dan tidak melulu warga negara-kota kita.

Ideal-ideal kebudayaan Yunani dilestarikan sejak zaman Alcuin, meski Boethius dan lain-lain menempatkan kota itu ke dalam Septem Artes Liberales (Tujuh Mata Pengetahuan Umum) yang terdiri atas Trivium dan Quadrivium. Trivium terdiri atas gramatika, dialektika, dan retorika. Sedangkan Quadrivium meliputi aritmatika, geometri, astronomi, dan musik.

Paham romantik tentang kebudayaan dengan istilah-istilah yang genius, dan penghalusan kepekaan estetik, kabarnya sudah dikemukakan oleh Immanuel Kant dalam Kritik Atas Putusan.

Pidato oleh Herder dilihat sebagai bagian penting dalam perkembangan kebudayaan.

Saint Simon membedakan antara critical epochs (jaman kritis) dan organic epochs (jaman organik) dalam hal perubahan budaya.

Fichte percaya bahwa tujuan manusia ialah mengembangkan suatu kebudayaan dunia etis.

Hegel, dengan mengembangkan ide Roh sebagai tema sentral filsafatnya, menjadikan ide kebudayaan suatu objek yang jauh lebih dperhatikan dibandingkan sebelumnya.

Schlegel memandang vitalitas kebudayaan sebagai tergantung pada campuran ilmu dan kehidupan.

Matthew Arnold merupakan rasul kebudayaan abad ke-19. Dia mengidentikkan kebudayaan dengan kesempurnaan total dan memberinya peran untuk mengatasi kekasaran dan kebuasan masyarakat.

Spengler membedakan kebudayaan dari peradaban. Kebudayaan, dinggap sebagai kemungkinan-kemungkinan vital dari suatu masyarakat. Peradaban dilihat sebagai melulu bentuk lahiriah pencapaian kemungkinan-kemungkinan itu.

Para sosiolog berbeda pandangan mengenai apakah kebudayaan dan peradaban harus dpahami sebagai identik. E. B. Taylor menganggap kedua konsep itu sebagai identik, dan meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, dan adat istiadat. Alfred Weber membedakan istilah-istilah itu. Kebudayaan dipertalikan dengan filsafat, agama dan seni, dan peradaban dengan ilmu dan teknologi.

Plekhanov, dengan mengangkat konsepsi materialis tentang sejarah, berpandangan bahwa produk budaya suatu bangsa tergantung pada substruktur ekonominya.

Huizinga menekankan unsur bermain di dalam kebudayaan.

Sementara itu Van Peursen, mendekati kebudayaan sebagai hal yang lebih pragmatis namun masih dalam wilayah filosofis. Ia mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu bentuk berupa strategi untuk survive dalam hidup. Ia berpijak dengan cara menarik silsilah (matarantai spiritual). Kebudayaan sebagai strategi lahir atau maujud manakala terjadi ketegangan antara yang imanen dan yang transenden dalam diri manusia. Hasilnya adalah 3 sikap kebudayaan yang permanen tetapi bisa berubah-ubah menurut situasinya. Ketiga sikap itu adalah; sikap mitis, ontologis, dan fungsional. Pembagian urutan tersebur memang berdasarkan sejarah kebudayaan manusia. Dimana pertama-tama kebudayaan manusia berupa mempercayai atau mengimani begitu saja apa-apa atau segala sesuatu yang menghidupinya. Seperti misalnya dalam kebudayaan kuno dimana manusia menyembah matahari, pohon, batu, dan sebagainya. Tetapi perkembangan selanjutnya, seperti dalam cerita Ibrahim, yaitu apa yang dia sembah ternyata bisa hilang, maka dengan kemampuan aqliyah-nya, persepsinya yang seperti itu tadi disebut Van Peursen sebagai sikap ontologis. Pada tahap ketiga, sikap kebudayaan Van Peursen disebut sikap fungsional, yaitu sebuah sikap dimana segala sesuatu yang bisa dibuat fungsional untuk memenuhi hidupnya, akan diperlakukan manusia seperti itu.

Hofstede memilih tujuh konsep yang berkaitan dalam kebudayaan; yaitu kepribadian (personality), nilai (value), sikap (attidute), keyakinan (beliefs), stereotip (stereotypes), norma (norms), dan kebudayaan (culture). Menurutnya ketujuh konsep ini bisanya digunakan untuk mendefinisikan mental programming manusia. Secara singkat, yang dimaksud dengan mental programming ialah hal-hal yang ada pada diri seseorang, yang bersama-sama mempunyai pengaruh pada perilaku seseorang. Hofstede melihat ada tiga taraf keunikan dalam pemrograman mental manusia. Pertama, taraf yang universal. Taraf ini dimiliki oleh semua atau hampir semua orang. Kedua, taraf kolektif, yang dimiliki oleh sekelompok orang tertentu, tetapi tidak oleh orang dari kelompok lain. Ketiga, taraf individual, yang dimiliki oleh perorangan secara unik. Dengan pengertian ini Hofstede menggambarkan hubungan diantara ketujuh konsep tersebut menurut derajad kespesifikannya yang relatif satu terhadap yang lainnya, dalam rangka kecenderungan yang lebih individual atau kolekif. Dengan menggunakan kerangka anteseden-konsekuensi, bisa dilihat mana yang paling saling berpengaruh dan mempengaruhinya. Hofstede telah sampai pada kesimpulan bahwa; nilai ternyata lebih spesifik terhadap situasi dibanding dengan kepribadian. Namun ternyata nilai tersebut lebih umum sifatnya dibanding dengan sikap dan keyakinan. Dengan demikan tampaklah bahwa nilai dipengaruhi atau terbentuk oleh kepribadian seseorang dan atau oleh norma-norma kebudayaan. Dengan demikian norma-norma kebudayaan adalah merupakan hal yang sangat kuat mempengaruhi seseorang dalam hal kepribadian, nilai, sikap, keyakinan, stereotip, dan norma. Kesimpulannya ialah konsep-konsep kebudayaan sangat penting untuk digunakan sebagai alat atau tools untuk merinci atau menelusuri matarantai spiritual (silsilah), dari sebuah peradaban.

The future of Subud Growth and Spread

“Daripada kamu memikirkan ketidakbaiknya orang lain, atau keburukan orang lain, rasakanlah dirimu sendiri, bagaimana caramu hidup, supaya hidupmu menjadi baik” (1983-9-15-3).

Ini adalah kutipan dari ceramah Bapak 1983. Saya gunakan untuk membuka wacana tentang pertumbuhan dan penyebarluasan Subud dimasa datang, karena saya merasakan kutipan ini penting, dan karena pada tahun-tahun itu, yaitu hampir diseluruh ceramah Bapak di tahun 1983 selalu dianjurkan untuk enterprise. Jadi enterprise bukan untuk orang yang berbakat dagang atau usaha saja, melainkan harus dijalankan oleh seluruh anggota Subud secara gotong royong, bersama-sama, dan dalam kerukunan. Dalam 11 ceramah Bapak di tahun 1983, hampir selalu disisipkan contoh kenyataan tentang S. Widjojo Center. Contoh kedua yang selalu digambarkan ialah tentang rencana akan dibangunnya sebuah hotel lima ster di bilangan Kuningan, yang sekarang menjadi Hotel Regent. Terus terang, membaca ceramah Bapak tahun 1983 membuat saya prihatin, dan mungkin dalam hati menangis. Betapa kecewanya Bapak, karena apa yang beliau impikan ternyata tidak menjadi kenyataan. Tanah tersebut, hotel tersebut dimiliki oleh orang bukan Subud. Mengapa beliau pasti kecewa? Karena di setiap kota dimana beliau beceramah pada tahun itu (1983), entah itu di Cilandak, atau di Bogor yang tentunya dihadiri juga anggota-anggota dari Surabaya, Semarang, Solo, Bandung, ataupun Bogor, beliau selalu mengingatkan; “Kenapa untuk pertemuan kita ini kok harus sewa? Seandainya anggota Subud mau sedikit-sedikit berusaha, maka pasti bisa terwujud sebuah tempat latihan sendiri yang layak. Coba kalau di kota ini ada Hotel dengan lima ster, punya siapa hotel ini? Punya orang Subud!

Tahun 1983, bapak bermimpi untuk Subud memiliki hotel lima ster. Dan ini agar diusahakan oleh anggota Subud. Nah sekarang mampukah kita sebagai orang-orang yang mendapatkan kemurahan latihan kejiwaan turut mewujudkan cita-cita Bapak? Membangun hotel lima ster di kota-kota besar? Barangkali kita bisa memulai dari Jakarta, yaitu bagaimana caranya Hotel Regent bisa kembali menjadi milik Subud. Dibeli lagi? Bisa! Dengan cara lain? Bisa!

Enterprise merupakan titik sentral dari hampir setiap ceramah Bapak. Mengapa itu penting? Rupanya, enterprise adalah sebuah landasan untuk mewujudkan cita-cita atau tujuan Subud yang oleh Bapak telah ditegaskan kembali dalam ceramah bapak di Anugraha, London, 9 Agustus, 1983: “Jadi terang saudara-saudara sekalian, bahwa tujuan Subud yang sebenarnya ialah untuk mensejahterakan rakyat, untuk memperdamaikan rakyat dunia, bukan sesuatu bangsa.”

Dasar dari enterprise adalah Zat, Sifat, dan Asma. Zat artinya kuasa, kuasa tidak akan dapat dilihat, tidak akan dapat dimengerti oleh orang lain, kalau tidak ada sifatnya.

Sifat belum juga dapat dipercaya oleh orang lain kalau belum ada asmanya.

Asma belum juga, masih belum dapat dipercaya kalau belum ada Afa’lnya, kenyatannya.

Mendirikan enterprise memang sukar. Kalau ada sukar tentu ada gampang. Bagaimana caranya gampang? Dandani dulu dirimu! Dirimu supaya jadi diri seseorang yang penuh dipercaya oleh orang lain. Ini dalam lahirnya orang telah dapat nama baik dalam masyarakat manusia. Kalau orang sudah dapat nama baik dalam masyarakat manusia, ooooo, sudah saudara, bukan saudara cari uang, uang cari saudara. Ini telah beberapa kali Bapak katakan inilah afa’al daripada latihan kejiwaan Subud. Semuanya harus dicari tapi dengan tenaga, dengan bekerja.

Karena itu Susila artinya seluruh peradaban manusia, peradaban makhluk. Budhi di dalam diri manusia adalah sebagai petunjuk, pemimpin, guru. Dharma artinya menyerah, karena itu maka didaharmakanlah. Kepada siapa? Kepada Tuhan!

Bapak tidak menyuruh mbrangkang! Apa kodok, kok mbrangkang. Manusia ada akalnya. Lha, ini. Gunakanlah akalmu di dalam akhlakmu, di dalam ingatanmu, supaya kamu dengan itu dapat mempercepat perjalananmu menuju ke tempat mana yang kamu kehendaki. Maka jangan banyak eker-ekeran, jangan banyak omongan, tetapi kerjakan. Tahu-tahu jadi, tahu-tahu dipercaya oleh orang. Itu saja.

Jadi terangnya, saudara sekalian, apa yang telah ada di dalam agama Islam, atau di dalam latihan kejiwaan Subud ini, tidak perlu kita mendahulukan pengaruhnya, yaitu menghendaki supaya anggota-anggota itu bisa banyak atau memperbanyak anggota-anggota, itu tidak perlu dulu. Yang penting, yang penting kita harus sedikit-sedikit dapat memberi teladan kepada umum. Jadi kebaktian kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pengakuan kita yang Subud, Susila Budhi Dharma, dapat diwujudkan dengan nyata sehingga orang percaya baik lahir maupun batin.

Karena itu, saudara sekalian, maka apa yang telah Bapak dengungkan: enterprise itu penting dan perlu sekali bagi saudara sekalian, mengingat kebutuhan kita persaudaraan. Persaudaraan Susila Budhi Dharma, tidak akan diterima oleh masyarakat agung, masyarakat umum, masyarakat besar, sebagai sesuatu pendirian yang benar-benar memikirkan, merasakan kebutuhan rakyat dunia. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali, agar kita di dalam Subud ini, peraudaraan Subud ini, berpendirian, atau isi di dalamnya benar-benar, yaitu sesuatu yang dikatakan sosial. Boleh ditambahkan sosial demokrat. Tetapi yang pertama sosialnya.

Inilah saudara sekalian, gunanya latihan kejiwaan Subud ini, apabila saudara-saudara benar-benar dapat meratakan. Bapak merasa tidak mungkin karena Bapak ini orang satu tidak bisa meratakan; karena itu maka Bapak menyalurkan ini kepada sekalian saudara-saudara, agar dari saudara-saudara ini nanti yang bertindak, yang melakukan, sariatnya, berikanlah contoh saudara-saudara, contohnya. Saudara-saudara sendiri harus dapat memperbaiki dirinya sendiri. Kalau saudara sendiri belum kelihatan baik, belum menunjukkan kebaikannya, belum menunjukkan tingkah lakunya yang utama, bagaimana bisa diturut, bagaimana bisa menarik orang lain.

Hakikat hanya bisa dicapai lewat sabar, tawakal, dan ikhlas. Sabar artinya jangan ada rasa kecewa, jangan ada rasa iri, jangan ada rasa membanding-bandingkan dengan ini dan itu umpamanya. Tawakal artinya andaikata terjadi apa-apa, apa yang telah dilihat, apa pula yang telah didengar, dan apa pula yang telah dirasakan, itupun juga jangan dipedulikan selain diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya diserahkan lagi seperti tadi, hanya Tuhan Yang Maha Esa. Lantas ikhlas, arti ikhlas apabila terjadi kadang-kadang saudara pada saat akan melakukan latihan, ingat kepada saudaranya yang krisis, upamanya begitu, sehingga kuatir-kuatir nanti aku krisis dan sebagainya, juga tidak perlu dirasakan demikian. Jadi saudara yang sungguh-sungguh mantap, sungguh percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada lain, artinya ikhlas.

Jadi manusia itu bikin kesalahan bagi dirinya sendiri, inilah saudara-saudara sekalian, maka pentingnya orang bakti kepada Tuhan, apalagi pentingnya latihan kejiwaan Subud ini yang manusia sedikit demi sedikit akan dapat tahu bagaimana salahnya dirinya sendiri, karena itu saudara akan dapat tahu apa salah tindakannya. Saudara akan dapat tahu benarnya tindakannya, saudara akan dapat tahu bagaimana saudara itu sebenarnya, inilah namanya manusia, manusia dari kata-kata tritunggal: tiga kata-kata: rasa, rahsa, dan kuasa, yaitu Subud, Susila Budhi Dharma.

Jadi Susila itu apa yang telah menjadi olah tingkah manusia, Budhi adalah kekuasaan, adalah guru di dalam diri saudara sekalian, itu akan tercapai apabila saudara Dharma kepada hidupnya atau Dharma kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu menyerah sungguh-sungguh, tawakal, dan ikhlas.

Jadi ceramah Bapak ini, saudara sekalian, kecuali mengenai agar saudara lebih terang menerimanya, juga supaya saudara rukun. Rukun antara pembantu pelatih, yang tua dengan yang muda, pembantu pelatih tua muda dengan para pengurus yang tua yang muda, dan rukun pula dengan anggota-anggota yang tua dan yang muda.

Apa sebab sehingga sekarang ini saudara-saudara yang masih muda Bapak jadikan, Bapak tunjuk sebagai pembantu pelatih? Agar memiliki perasaan, bahwa tidak adan bedanya saudara, antara pembantu pelatih, pengurus, dan anggota. Dan tidak ada bedanya pula antara yang tua muda, dan tiga golongan atau tiga bagian itu. Jangan ada sangka, jangan ada kira, atau jangan ada perkiraan, bahwa kalau sudah lama, lebih dapat menerima atau lebih faham tentang Subud. Tidak, saudara. Yang faham tentang Subud itu hanya satu: Tuhan yang Maha Esa. Sedangkan saudara sekalian di dalam hidupnya di dunia ini dapat dikatakan dalam perjalanan. Dalam perjalanan menuju ke hidup sesudah mati.

Jadi terang saudara sekalian, baha Tuhan menciptakan manusia benar-benar konsekuen, cocok dengan kata-kata Subud, artinya: jumbuh. Karena itu, maka pikiran dan hati itu tidak boleh dipercaya. Sekarang katanya, iya, besok sudah lain. Jadi rasa yang menjadi dasar. Oleh karena itu, maka walaupun itu bukan sesuatu yang sama dengan kebiasaan manusia hidup di dunia, toh dapat kita rasakan. Ini. Jadi semua itu konsekuen, saudara. Sesuatu ilmu yang tidak bisa dirasakan kenyataannya, jangan diikuti. Itu khayal namanya.”

Kutipan-kutipan ceramah diatas saya ambil dari ceramah Bapak tahun 1983 yang dikumpulkan menjadi buku ceramah seri 9. Kumpulan tersebut sengaja saya kutip secara acak menurut penerimaan saya saat itu. Menurut saya, dalam ceramah Bapak sepanjang tahun itulah terlatak dasar-dasar budaya yang legal dan otentik. Tahun-tahun itu sepertinya mengandung sebuah harapan tetapi juga keadaan was-was bahwa apa yang menjadi cita-cita Bapak belum tentu bisa terwujud. Oleh karena itu dalam sepanjang tahun 1983, ceramah Bapak seakan berisikan sebuah wanti-wanti yang disertai semangat hendak mewariskan estafet kepemimpinan kepada para pembantu pelatih. Initinya bisa kita petik sebagai pasemon yang mestinya generasi waktu itu bisa tanggap ing sasmita terhadap apa yang dituturkan oleh Bapak dalam ceramah-ceramahnya tadi. Berikut ini, saya kutipkan lagi ceramah bapak di Aula Biotrop Bogor, 24 Maret 1983:

“Jadi kalau saudara dikasih pacul sama Tuhan itu jangan ditinggalkan diam saja paculnya, untuk disembah-sembah. Jangan! Kerjakan sesuatu dengan pacul itu. Apa artinya pacul ini? Jadi terangnya kalau sudah tidak mengerjakan segala sesuatu di dalam diri saudara, saudara tidak akan mengerti kehendak Tuhan pada diri saudara-saudara sekalian. Siapa kira, Pele dengan kakinya dapat honorarium tidak sedikit, sampai 5-6-7 juta dolar. Kakinya, kaki saudara, dapat apa? Dicatek asu?

Jadi kalau benar-benar ini saudara-saudara kerjakan, saudara-saudara akan tahu hikmahnya, tahu manfaat. Inilah hasil daripada latihan kejiwaan Susila Budhi Dharma.

Kira-kira sudah 20 tahun saya tunggu kok diam-diam saja. Kalau saudara latihan cuma ngek-ngok-ngek-ngok teruuus. Ya wis latihan ya sudah latihan, ya sudah benar-benar latihan, tapi kok ora isi-isi latihane. Jadi saudara itu ibarat nanem pohon sudah 20 tahun belum keluar buahnya. Kok ora keluar, mbok yo .... kuwi dudu, kumi lowo kuwi. Sing obah-obah iku lowo karo kalong.”

Frase diatas tersebut menggambarkan betapa Bapak merasa lama sekali menunggu buah latihan dari orang-orang. Kerisauan, kegundahan, kekecewaan, dan mungkin juga kemangkelan, kenapa masih juga harus disandang oleh Bapak yang usianya juga sudah 83 tahun? Apa yang salah dalam latihan kejiwaan? Apa kurangnya keterangan-keterangan yang dituturkan Bapak dalam ceramah-ceramahnya? Pertanyaan ini siapa yang wajib menjawab? Yang berhak menjawab? Setiap orang Subud!

Saya sangat setuju dengan gagasan Pak Haryono tentang kebudayaan dalam Subud. Memang Subud adalah individu manusianya. Dengan demikian jikalau ada sejuta anggota Subud maka akan ada sejuta kebudayaan, tetapi itu kebudayaan individu. Tidak mungkinkah ada kebudayaan kelompok atau dalam hal ini adalah kebudayan Subud. Mengapa kita harus takut untuk mengangkat isu tersebut?

Kebudayaan berasal dari kata budaya, mendapat awalan ke, dan akhiran an. Budaya artinya budhi (tembung aran, dudu budi kang ateges tembung wasesa), nalar, angen-angen, panemu.

Kabudayan ateges: wohing budaya, wedaring budaya, babaring nalar pambudi, wohing pangolah lakuning utawa dayaning budi.

Jadi terangnya kebudayaan yang berkejiwaan adalah merupakan wohing pambudi yang memiliki jiwa atau memiliki ruh. Pambudi dalam bahasa Indonesia barangkali bisa diterjemahkan sebagai kebiasaan melakukan secara terus-menerus. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akan melahirkan budaya. Orang yang terus-menerus proaktif akan memiliki budaya proaktif, sedangkan orang yang selalu reaktif akan memiliki budaya reaktif. Jadi kebudayaan boleh juga disebut sebagai kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Apa perlunya kebudayaan dalam sebuah komunitas, jika ia sebagai wohing laku dan dayaning pambudi? Kebudayaan secara intrinsik adalah sebuah wahana untuk membangun sebuah dinamika organisasi, baik dalam bentuk sederhana seperti keluarga, trah, desa, negara, maka lalu ada pepatah yang berbunyi: “ desa mawa cara, negara mawa tata” yang artinya untuk mengatur desa ada caranya tersendiri, dan untuk mengatur negara ada cara menatanya sendiri. Artinya setiap keadaan atau jaman, dan bagian dari komunitas memerlukan budaya tersendiri untuk mengatur dan menatanya. Dengan kata lain organisasi sekecil apapun diperlukan budaya untuk menata dan mengatur kehidupan agar cita-cita organisasi tersebut bisa tercapai. Dengan demikian sesungguhnya kebudyaan diperlukan sebagai alat untuk menunjukkan arah dan mewujudkan cita-cita dari sebuah komunitas.

Dengan demikian kebudayaan mempunyai daya untuk mempengaruhi sebuah gerakan ke arah apa saja yang diinginkan. Akan tetapi, kebudayaan yang dikatakan memiliki nilai tambah bagi organisasi jikalau ia mengemban dan melaksanakan hukum tabur-tuai dan membuat organisasi itu kreatif, produktif, dan efektif. Kreatif, produktif, dan efektif artinya organisasi tersebut mempunyai banyak gagasan, banyak tindakan, dan berhasil guna. Dalam bahasa hukum tabur-tuai bunyinya adalah: “menabur gagasan¾menuai tindakan, menabur tindakan¾menuai kebiasaan, menabur kebiasaan¾menuai keberhasilan. Inti pokok dari gagasan ini adalah bahwa kebudayaan harus diciptakan untuk mendorong dinamika organisasi agar berjalan melompati kuantum pertumbuhan.

Budaya menggunakan waktu misalnya, ternyata mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perubahan kehidupan manusia. Dari sejak pertama ditemukan manajemen waktu pada tahun 50-an hingga 50 tahun kemudian, yaitu di akhir abad 20 telah lahir manajemen waktu generasi keempat. Tetapi mengapa masih banyak orang yang menngunakan manajemen waktu generasi pertama? Itulah masalahnya.

Kebudayaan memiliki kausalitas dan kekhasannya masing-masing. Tergantung genre apa yang melahirkannya dan untuk apa. Namun dalam alam yang semakin moderen, dimana wacana kesejagatan telah melumpuhkan segi-segi humanitas, maka humanitas itu sendiri tengah tergagap-gagap mencari ruang untuk bermetamorfosa. Humanitas tidak lagi dipandang sebagai wacana yang harus disikapi dan dibenihkan sehingga suatu waktu bisa menghasilkan sebuah tatanan kehidupan yang lebih sosial demokrat, tetapi sekarang ini justru tengah tercarut ke dalam ambiguitas yang tak jelas sebab-musababnya. Barangkali saja jika kita boleh menggunakan pendekatan fenomenologi, maka ambiguitas tersebut terjadi karena umat manusia tak lagi mampu berperan sebagai aktor, melainkan sebagai reaktor. Ujung-ujungnya, orang lalu saling menuduh tanpa tahu apa yang dituduhkan. Orang saling mengadili, tanpa tahu apa yang harus dibuat adil. Pendek kata, kegagapan spiritual tak bisa lagi bisa diobati dengan syair dan nyanyian para sufi, ia hanya bisa dikalahkan oleh kekuasaan Tuhan. Tetapi mengapa Tuhan tak jua turun tangan menuntuaskan persoalan dunia?

Berkaitan dengan cita-cita Subud untuk mensejahterakan rakyat dan mendamaikan bangsa sedunia, maka jika Subud tak memiliki budaya yang kuat, ia akan sama saja dengan isme-isme lain yang gagal menggenggam dunia. Betapapun suci niat kita, dan betapapun mulianya tujuan kita, bila kita tak kenal budaya kita sendiri, mana mungkin kita bisa mengukur sejauh mana kita akan berperan. Polarisasi antara Susila dan Budhi seharusnya melahirkan ketegangan yang justru perlu untuk kita kreatif menemukan cara bagaimana seharusnya kita bertindak. Barangkali saja selama ini kita belum bisa menemukan apa budaya yang cocok untuk kita. Sesungguhnya, kebudayaan hanya bisa lahir atas sebuah kebutuhan untuk berubah, untuk pembaharuan, dan untuk pertumbuhan. Pertama-tama kita perlu bertanya kepada diri sendiri: perlukah kita berubah, perlukah kita melakukan pembaharuan, dan perlukah kita tumbuh? Jika jawabannya ya, maka selangkah lagi kita perlu menggali sumber inspirasi yang mampu menjadi pendorong, semangat untuk berubah, dan arah yang ingin dituju. Dengan demikian kita memerlukan seorang pemimpin yang tak hanya bisa menunjukkan arah mana yang mesti ditempuh, tetapi juga mampu menjelaskan dengan apa menempuh arah itu. Intisarinya adalah perlunya organisasi yang visioner untuk tetap survive dalam kondisi yang sekacau apapun dengan semangat tim. Inilah yang diimpikan oleh Bapak. Sebuah keadaan kehidupan yang rukun diantara anggota Subud, yang mempunyai enterprise yang berhasil sehingga bisa menjadi contoh bagi orang lain, bagi masyarakat besar, bagi masyarakat agung. Dengan demikian kebudayaan Subud perlu dirumuskan untuk diwujudkan menjadi kenyataan. Kebudayaan tersebut jangan sampai justru menjadi batu sandungan ataupun rantai belenggu yang sulit kita lepaskan. Maka perlu suatu penyelaman ke dalam dasar citra yang sudah digariskan oleh Bapak.

Saya melihat bahwa budaya Subud mempunyai 3 pilar utama kebudayaan yaitu: Kedaulatan Illahi, Kedaulatan Alam Semesta, dan Kedaulatan Akal Pikiran.

Kedaulatan Illahi adalah sebuah kodrat atau kekuasaan Tuhan yang makarti di dalam diri manusia. Kekuasaan Tuhan yang makarti di dalam diri manusia sifatnya mutlak, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi kemewujudan kekuasaan Tuhan tersebut, (tanazzul, Turunnya Wujud dengan Penyingkapan Tuhan, Ini adalah turunnya Yang Mutlak dari Kegaiban ke Alam Penampakan melalui berbagai tingkatan perwujudan), tanpa diikuti oleh usaha manusia, maka tidak akan menghasilkan buah apa-apa. Inilah inti dari latihan kejiwaan.

Kedaulatan alam semesta adalah kekuasaan daya-daya yang ada di dalam alam semesta. Ia berupa daya-daya rewani, daya-daya nabati, daya-daya hewani, dan daya-daya manusia. Kekuasaan daya-daya ini sebenarnya hanyalah sebagai pembantu manusia, tetapi karena kelemahan manusia maka manusialah yang dijajah oleh daya-daya ini. Karenanya kedaulatan alam semesta mestinya hanyalah sampai pada batas sebagai pembantu manusia untuk baktinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedaulatan akal pikiran merupakan kecakapan aqliyah atau kemampuan akal pikiran untuk mengubah benda-benda alam menjadi benda kebudayaan. Disini terkandung hakikat: “yang mengetahui yang lain adalah bijaksana¾yang mengerti dirinya sendiri adalah cerah”. Inilah dasar dari segala enterprise.

Kendati hati dan akal pikiran adalah sumber nafsu, jika telah dibimbing oleh kekuasaan Tuhan maka ia bisa menjadi sumber ilmu, yang berarti adalah sumber kebijaksanaan dan sumber pencerahan. Sehingga kearifan bisa dicapai dan manusia tiada lain adalah utusan Tuhan yang kembali ke segala ciptaan dengan cinta, dengan kemurahan, dengan kehormatan, dan dengan kemuliaan.

Tritunggal tersebut adalah merupakan sumber inspirasi dan sumber pencarian bagi Sang Penempuh Jalan Spiritual. Di dalamnya terkandung beribu-ribu tangga kenaikan menuju Sang Sumber. Di sana juga ada seribu rembulan, yang berarti juga seribu matahari. Ia adalah lintasan-lintasan para pengembara, yang dengannya Tuhan coba membangkitkan kesadaran lewat latihan kejiwaan. Susila Budhi Dharma sebenarnya telah mengajarkan adab yang sempurna bahwa hamba tetaplah hamba, dan Tuhan tetaplah Tuhan. Berikut adalah prasetya saya sebagai murid Susila Budhi Dharma:

Aku ini milik Tuhan dan selalu mengabdi pada kehendak Tuhan.

Aku tidak akan memiliki yang berlebih, segala yang berlebih akan aku kembalikan kepada Tuhan melewati alam dan kebudayaan, dengan kesadaran bahwa aku harus dermawan di dalam pikiran, dalam perasan, dalam jiwa, dalam perkataan, dan dalam perbuatan.

Aku setia pada hati nuraniku.

Aku setia pada jalannya alam.

Aku hidup dengan menjunjung tinggi dan selalu terlibat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.

Ziarah Rumah Kalbu

Manusia hanyalah segenggam tanah. Kemuliaan apapun yang diterima manusia berasal dari kelembutan dan perhatian Tuhan Mahasuci dan Mahakudus. Manakala Dia memberi, Dia memberi karena kemurahan-Nya sendiri semata-mata, bukan karena engkau layak menerimanya. Dia memberi karena kedermawanan-Nya, bukan karena engkau sujud kepada-Nya. Dia memberi melalui anugerah dan rachmat-Nya, bukan karena amal-amal kebaikan yang engkau kerjakan. Dia memberi karena Dia adalah Tuhan, bukan karena engkau tuan tanah

Allah melahirkan sebab bagi segala sesuatu yang ada dan menciptakan serta merancang seluruh makhluk. Dia benar-benar tunggal dan satu dalam segala hal. Karenanya, suatu kebijakan (kearifan) tidak membiarkan segala sesuatu harus berbentuk tunggal dalam segala hal, pun tidak pula segala sesuatu itu mesti berbeda dalam setiap hal. Sebaliknya, segala sesuatu mesti berbentuk tunggal dalam materi dan banyak dalam bentuk. Selain itu, suatu kearifan tidak juga membiarkan segala sesuatu mempunyai bentuk dua, tiga, empat, lima, enam, dan sebagainya. Sebaliknya, keadaan yang paling bijaksana dan benar bagi segala sesuatu adalah sebagaimana adanya seperti sekarang ini dalam jumlah dan ukuran. Inilah kebijakan paling tinggi dan tatanan yang benar. Dengan kata lain, sebagian hal bersifat dua, sebagian tiga, empat, lima, enam, dan seterusnya.

Penyingkapan keindahan adalah tempat dimana segenap ruh terjarah melalui kasih sayang, kerinduan, dan cinta. Melaluinya kaum arif diberi kemampuan melakukan perjalanan menembus sifat-sifat itu dan tetap berada dalam visi keabadian dan kebakaan. Kaum arif mengatakan: "Kedudukan penyaksian keindahan menuntut kemabukan, ekstase, dan gejolak."

Visi keagungan adalah kedudukan dimana orang-orang terpilih dikuasai oleh rasa takut, kengerian, ketersimaan, dan ketakziman. Kaum arif mengatakan, "Visi keagungan mengacaukan segenap ruh, dan membuat bingung raga."

Keakraban dan keterkaguman adalah dua keadaan yang dialami oleh kaum darwisy yang tengah menempuh jalan menuju Zat Mahabenar. Keduanya itu adalah sebagai berikut:

  1. Manakala Zat Mahabenar mengungkapkan diri-Nya pada kalbu sang hamba melalui saksi keagungan, maka bagian yang diperoleh dalam hal itu adalah keterkaguman.
  2. Manakala Dia mengungkapkan diri-Nya pada kalbu sang hamba melalui saksi keindahan, maka bagian yang diperolehnya dalam hal itu adalah keakraban
Orang-orang yang terkesima, lelah dan letih dalam keagungan-Nya.
Sementara orang-orang yang akrab bergembira dalam keagungan-Nya. Ada perbedaan antara sebuah kalbu yang disulut api cinta karena keagungan-Nya dan sebuah kalbu yang bersinar dalam cahaya penyaksian karena keindahan-Nya.

Manusia membawa bentuk ilahi dari potensialitas menuju aktualitas, dan dengan cara itu membuat matahari terwujud sekali lagi. Pada kebangkitan kembali yang paling besar, perangai sejati dari manusia sebagai bentuk suci diaktualkan melalui pencarian ruhaniah.

Ya Kamal, Yang Maha Sempurna. Perjumpaan kita adalah perjumpaan menuju Yang Sempurna. Karena setiap perjumpaan kita adalah matarantai spiritual, dan mencakup semua hal yang berlawanan, dan melahirkan keteguhan dalam setiap perubahan.

Ya Jalal, Yang Maha Agung. Keagungan hati kita seperti samudra cinta, mampu menenggelamkan keluh-kesah dan berjalan dari ketakjuban menuju ketakjuban yang lebih besar. Sehingga tak kita palingkan sejenakpun wajah kita pada hal lain, selain wajah Allah.

Ya Jamal, Yang Maha Indah. Keindahan menaklukkan segala kejahatan. Perjumpaan kita adalah keindahan yang hanya menuju pada Keindahan Sejati, Sang Pengukir jasad fisik maupun jasad ruh, yang di dalamnya Ia tanam seribu bunga mawar.


Ya Kohar, Yang Maha Menguasai. Manakala hati kita dikuasai oleh Tuhan maka segala yang lahir dan yang batin tak ada bedanya. Ia disembunyikan agar tidak membakar orang yang memandangnya.

Ya Latif, Yang Maha Lembut. Al-baqa' ba'da al-fana', Keabadian sesudah kefanaan. Inilah kekekalan kita sesudah kefanaan. Kita menetap dalam Allah, tapi pergi kembali kepada makhluk dengan cinta, kemurahan, kehormatan, dan kemuliaan. Kita harus bekerja dan beramal di dunia supaya membimbing dan menyempurnakan mereka yang belum sempurna.

Ini adalah ideologi JAZZ IMPROMPTU. Ketika Tuhan menciptakan manusia ia memang ingin mencipta, bukan karena alasan lain. Ketika manusia mijil, keluar dari gua garba ibu, ia sudah kinanti, disertai dengan kekuasaan Tuhan. Hanya setelah itu, bagaimana manusia memanfaatkan kekuasaan Tuhan dalam seluruh waktu hidupnya. Maknanya, semestinya apapun yang dilakukan manusia haruslah sebagai proses pemuliaan diri di hadapan Tuhan.

Senin, 02 Juni 2008


Campur Sari

Dualitas sosiobudaya di Indonesia telah terinisiasi sejak zaman imperial. Dua sistem sosial: moderen dan “alamiah” [menghindari istilah tradisional] hidup berdampingan. Tetapi uniknya, kedua sistem tersebut tak berkomunikasi apalagi berhubungan secara fungsional. Kedua sektor tadi seakan-akan hidup dengan dunianya sendiri-sendiri. Sektor modern dari dan untuk Orang Luar [kolonial], dan sektor alamiah [pribumi] bekerja terpisah-pisah mengikuti kehendak sejarah lokal.

Anehnya, meski tak berhubungan secara fungsional, dualitas sosiobudaya tadi telah mampu melahirkan budaya feodalisme yang sangat kental, meski pada awalnya masih bersifat kedaerahan. Bahkan, aliran feodalisme tersebut semakin menjadi besar manakala sektor moderen [baca pemerintahan] semakin memekarkan birokrasi. Birokrasi menjadi rumah sekaligus pasar untuk tumbuhnya budaya feodalisme [yang nantinya menjadi tempat persemaian KKN].

Indonesia normatif vs Indonesia Nyata

Oleh sebab-sebab yang sama pula, dualitas sosiobudaya terlanjutkan pada Zaman Kemerdekaan. Sektor moderen yang ditinggalkan kaum kolonial diisi oleh kalangan terdidik pribumi yang berkesempatan mengecap pendidikan moderen di sekolah-sekolah elite Pasca Polotik Etis 1903. <>Indonesia versi mereka adalah Indonesia-normatif, Indonesia versi agen dan sekaligus pasien kebudayaan. Mereka berkiprah terutama lewat sektor Negara, yaitu: birokrasi, militer, badan dan jawatan milik Negara yang dinasionalisasi. Namun apa lacur, karena nasionalisasi hanya terhenti sebatas tataran struktur politik; [pribumisasi, nasionalisasi struktur peninggalan Jepang dan Belanda] tertinggal atau senjang pada tataran kultur.

Blue print perubahan di Era Kemerdekaan tetap merujuk pada kultur kolonial yang, diketahui berjarak senjang dari makna dan pemaknaan anak-anak negeri sepanjang zaman. Ini terbukti dari peran aktif sektor moderen berupa penyingkiran segala bentuk lokalitas [nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, hukum, pranata sosial, religi, agama, persekutuan, ulayat] dari Sistem Hukum Nasional [SHN]. Bukan bualan jika SHN Zaman Kemerdekaan lebih kolonialistik dibanding sistem hukum Kolonial Belanda. Akibatnya proses evolusi sosiobudaya secara nasional kalau tidak terbelokkan maka juga tersumbat atau terkacaukan. Masyarakat lokal dan lebih-lebih sektor alamiah tak lebih dari tamu di negeri sendiri. Evolusi sosio budaya lebih tragis lagi, ketika peranan perantara yang pernah dimainkan oleh golongan Asia Timur pada Zaman Kolonial justru absen pada zaman kemerdekan. Meski kelas menengah tumbuh cukup signifikan, tetapi mereka lebih menjadi konglomerasi baru.

Merekalah yang lalu berkuasa di bidang industri dimana masyarakatnya lebih mengutamakan “keseiasekataannya” [patembayatannya] sehingga “patembayatannya” menjadi unsur utama ikatan kemasyarakatannya. Pada masyarakat industri, masalah yang diutamakan adalah ’patembayatannya’ [bersepakat/bersekutu seia sekata] yaitu pasar industri yang diutamakan. Maka ikatan kemasyarakatannya adalah derivatif dari serba kepentingan.

Pola komunikasi yang bekerja selama itu hanya searah: dari negara kepada rakyat, dari nasional ke lokal, dari normatif ke realita, dari moderen ke alamiah. Gagasan keindonesiaan yang diterima di tingkat lokal, praktis hanya Indonesia-normatif atau Indonesia-ide, bukan Indonesia yang sebenar-benarnya. Sebaliknya, umpanbalik dari lokal ke nasional, dari empiris ke teori, dari realita ke norma, tersumbat oleh struktur sosial yang invalid [dual]. Media massa misalnya, lebih efektif berperan sebagai corong ideologis sektor moderen [dahulu pemerintah, sekarang pasar] kepada rakyat, ketimbang alat kontrol sosial atau panggung apresiasi publik. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah pengerdilan diri nasional. Di satu sisi terus-menerus mengisi ruang yang terlalu sesak, di sisi lain membiarkan ruang kosong makin hampa. Anomali berkepanjangan pasca Soeharto pun berakar pada disfungsi komunikasi sektor moderen dengan sektor alamiah. Sektor moderen seperti berhalusinasi menafsirkan keadaan. <>

Sektor moderen asyik dengan dunianya sendiri yang menyempit oleh belenggu modernitas pinggiran, yaitu konsumerisme dan ekonomisme.
Tendensi itu memperdalam kejatuhan, memperlancar periferalisasi Indonesia. Patut dicatat, relisiensi [daya kenyal, daya pegas] sektor alamiah yang menyangga Indonesia sehingga terhindar dari kebangkrutan pasca Soeharto. Pada saat Indonesia menuju sampai kepada puncak kehancuran ekonomi [1996-1997] ternyata usaha mikro tetap berkibar bahkan menjadi daya penopang perekonomian nasional yang begitu kokoh. Ribuan kelompok usaha bersama dan ratusan institusi keuangan mikro yang tak pernah mendapat sentuhan kebijakan pemerintah [baca; subsidi] justru bebas dari KKN dan benar-benar mengangkat harkat serta derajat dan mewujudkan kesejahteraan wong cilik.

Media sebagai corong kapitalisme

Perilaku media terutama televisi lima tahun terakhir pasca Soeharto menjadi cermin. Televisi baru, asyik mengeksplorasi realitas pusat kota [baca: Jakarta], realitas modernitas pinggiran [baca: konsumerisme], atau realitas pasien kebudayaan [baca: selebritis]. Lihat saja acara-acara televisi yang lebih gencar memasarkan produk-produk konsumerisme kelas atas daripada hasil-hasil kreativitas masyarakat kecil. Realitas Indonesia di balik gunung, di lembah, di padang rumput, di tengah hutan, di tengah laut, di setiap tempat yang kaya makna dan magis tak pernah disingkap. Realitas Indonesia belum terkuak, dan karenanya Indonesia belum menemukan jendela pesona diri dan dunianya. Disfungsi komunikasi sektor moderen vs alamiah penting segera diatasi. Sektor moderen yang menguasai infrastruktur material harus dibantu agar dapat menyandarkan diri pada realitas Indonesia. Sebaliknya sektor alamiah yang kaya ide dan perspektif penting didorong mengorganisir diri, sehingga menemukan kambali élan vital-nya. Kekuatan sektor moderen [infrastruktur] mesti dipersambungkan dengan kekuatan sektor alamiah [ide dan perspektif].

Fenomena “Campur Sari” dalam berkesenian adalah teladan aktual. Di situ, modernitas dan “naturalitas” berkolaborasi mencuatkan ragam atau perspektif baru yang terbukti dapat diterima publik secara meluas [meski baru terbatas orang Jawa?]. “Campur Sari” tampil sebagai model komunikasi yang rekonsiliatif dalam lapangan kesenian, melunakkan kontras dan mendekatkan sentimental unsur dual, yaitu modernitas dan naturalitas. Model “Campur Sari” ini dapat diadopsi sebagai upaya memecah kebekuan pada lapangan kebudayaan yang lebih luas.

Jika proses Menjadi Indonesia diasumsikan sangat ditentukan oleh dinamika sektor moderen, dan jika sektor moderen merupakan arena hegemoni yang selalu terbuka sepanjang zaman, maka hegemoni dapat menjadi salah satu strategi pokok mendorong tumbuhnya “campur sari” kebudayaan Indonesia. Kekayaan ide dan perspektif di sektor ‘natural” yang sebagian besar mungkin telah berantakan atau terkoyak-koyak, mestilah diusung memasuki arus utama wacana di sektor moderen. Struktur perantara [intermediary structure] diperlukan sebagai “mak comblang” atau komunikator untuk: mengenali, menggali, merekonstruksi, menganalisis, menulis, menceritakan, memberitakan, mengartikulasikan, mengkritik, mengapresiasi, mengemas, dll. Pada tataran praksis, tugas ini sebenarnya relatif sederhana, yakni merajut kolaborasi sistem media [cetak dan elektronik] dengan sistem pegiat [LSM. CSOs] yang bergerak di sektor “natural”. Kolaborasi ini sangat menjanjikan. Banjirilah sektor moderen dengan fakta dan realitas Indonesia. Di sana ada pesona, merangsang orang beranjak dari Indonesia-norma ke Indonesia-Nyata, MENJADI INDONESIA. <>

Sementara ini masyarakat luas tengah berjuang untuk sebuah keadilan.
Bagi mereka, masyarakat yang berkeadilan merupakan tantangan masa lalu, kini, dan yang akan datang. Kesempatan memperoleh sumberdaya untuk mengembangkan kemampuan, akan memberi peluang bagi setiap warga negara untuk mencapai cita-cita tersebut. Persoalannya, kesempatan, pemanfaatan, dan pengendalian sumberdaya tadi masih sering didominasi oleh kelompok tertentu berdasarkan gender, golongan, agama, ras, atau etnik tertentu. <>

Sementara itu globalisasi secara sangat signifikan telah mempengaruhi kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan media, menjadi salah satu di dalamnya.
Celakanya mainstream media yang saat ini berkembang dan dikembangkan dengan cara-cara yang sangat patriarkis dan monolog, telah mengembangkan pula nilai-nilai kekerasan, sentralisasi, dan senantiasa berorientasi pada kepentingan penguasa atau pengusaha dalam mempertahankan status quo, dan menciptakan opini publik secara sepihak dan tidak berpihak kepada rakyat.

Oleh karena itu sudah sangat mendesak dan perlu dibangun paradigma baru dan cara-cara baru yang mampu untuk menumbuhkan inventivitas dalam mengembangkan karya-karya, nilai-nilai, atau gagasan-gagasan, yang merangsang memampukan manusia berdialog, berdebat, dan berkreativitas dengan membebaskan diri dari belenggu nilai-nilai patriarkhis.
Maka perlu digali idiom-idiom, paham, visi, arah, dan semangat kemasyarakatan dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta kebajikan-kebajikan warisan budaya dan peradaban bangsa untuk dijadikan roh pengembangan pemikiran sehingga terjadi interaksi yang kreatif yang mewujud dalam bentuk strategi kebudayaan sebagai usaha proaktif dalam merespon ketegangan antara yang imanen dan yang transenden. Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang ada di jalan yang benar dalam memajukan keadilan di negeri ini?

Pertama, jika kita serius akan mengemban tugas memajukan masyarakat yang lebih adil sampai tuntas, maka kita mau tidak mau harus menghadapi salah tangkap, peneroran, perlawanan, permusuhan, dan pengejaran, dalam bentuk apapun.

Kedua, kita harus benar-benar memberikan pendidikan yang seimbang demi keadilan bagi kaum miskin maupun bagi orang yang sudah mapan.

Ketiga, kita mesti menentukan tolok ukur untuk menilai organisasi kita dalam kaitannya sebagai tempat belajar dan pembelajaran, dengan kebijakan khusus pemerintah, serta norma-norma dan nilai-nilai yang tertulis maupun yang tak tertulis yang ada di dalam masyarakat kita. Tolok ukur tersebut adalah:


Pertama, kebutuhan-kebutuhan kaum miskin lebih diprioritaskan daripada kebutuhan-kebutuhan orang kaya.

Kedua, kebebasan kaum lemah lebih diprioritaskan daripada kebebasan kaum kuat.

Ketiga, partisipasi kelompok tersisih dalam masyarakat lebih diprioritaskan daripada pelanggengan tertib yang menyebabkan mereka tersingkir. Sebagian besar rakyat Indonesia mempunyai pengalaman hidup pas-pasan selama bergenerasi-generasi. Yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa mereka mengalami hidup yang serba kekurangan justru di jaman yang sudah semoderen ini, pada situasi perkotaan dan perkembangnya industri dewasa ini. Jika diantara mereka ada yang mampu menemukan tujuan, martabat, cinta kasih, dan kegembiraan, yang tidak lain adalah “hidup yang baik”, itu berarti masih ada harapan bagi kita untuk meretas jalan ke arah kemajuan. Jika kita dapat mengerti bagaimana mereka telah berbuat demikian, kita bisa menggunakan kebijaksanaan mereka sebagai bahan belajar dan pembelajaran.

Dalam masyarakat kita, banyak sekali contoh mengenai orang-orang yang perjuangannya sehari-hari guna mempertahankan hidupnya dibela dengan tekad dan keberanian sedemikian sehingga mereka memberikan model “hidup yang baik” sekalipun mereka sama sekali tidak memiliki atau bahkan tidak tahu mekanisme apa yang bisa mengantar mereka kepada kehidupan mewah. Mungkin sekali sebagian kita merasa lega menyambut datangnya kebebasan, namun sementara juga boleh merasa pesimis menyambut datangnya keadilan. Sebab, banyak anggota masyarakat kita yang ternyata tidak peduli lagi apakah kedua-duanya memang diperlukan, karena jika di satu tempat ada terlalu banyak, itu berarti di lain tempat ada terlalu sedikit.


Ada kebutuhan mendesak akan adanya masyarakat yang jelas-jelas menyadari bahwa tidak ada kebebasan yang mutlak dan keadilan yang absolut. Masyarakat harus menghadapi kenyataan dan bisa berdamai dengan realitas. Kebutuhan tadi adalah kebutuhan akan adanya masyarakat yang seimbang yang menerima bahwa keadilan lebih penting daripada yang lain-lainnya, dan bahwa perlu adanya jenjang kebebasan.
<>

Lebih dari itu, rasa keadilan mencakup rasa dan sikap hormat terhadap berbagai kebebasan, sedangkan usaha mencari dan mengejar kebebasan harus dikendalikan oleh rasa dan sikap adil.
Kalau tidak demikian maka akan terjadi perbudakan bagi kebanyakan orang. Secara alamiah, kita semua adalah kreasi yang baru setiap harinya. Tetapi secara sosiologis kita adalah sebuah kemandegan. Oleh karenanya kebenaran kadang-kadang menjadi batu sandungan buat kita sendiri.

Sebab tidaklah mungkin kita mengakui suatu kebenaran tanpa menafikan bahwa di pihak lain adalah tidak benar.

Cita-cita berbangsa Jika kita mau sedikit meneliti Pembukaan Undang-undang 1945, disana, pada alinea ke-2 dan ke-3 sangat jelas termuat cita-cita berbangsa masyarakat Indonesia yang adalah masyarakat komunitarian dan sebagai bangsa, adalah bangsa bahari. Cita-cita berbangsa itu adalah :”agar supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, yaitu yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Di sana tercermin sebuah makna bahwa:

Negara dan Bangsa adalah pasar dunia, tidak perlu dibela-bela;

  1. Yang perlu justru building character: perasaan, pendapat, dan pemikiran;
  2. Masyarakat adalah realitas sosial yang individu-individunya bertanggung jawab atas kesejahteraan orang di sekitarnya, untuk mencapai kemerdekaan berbuat kebajikan;
  3. Pasar adalah pokok, ekonomi adalah keseimbangan;
  4. Masyarakat harus jauh dari pasar, karena pasar menguasai segalanya;
  5. Negara mengurus hal yang mati, rakyat mengurus hal yang hidup;
  6. Tanah jangan dikuasai militer dengan semua kesatuan organismenya;
  7. Indonesia bukan kumpulan, tetapi upacara; yaitu sebuah proses memperbaharui jiwa saat demi saat;
  8. Desa mawa cara-negara mawa tata, golong-giliging tekad, hanyakramanggilingan, guru bakal-guru dadi, adedasar pandam-pandom-panduming dumadi. Dari awal-akhir, lahir-batin, dari tingkat tafakur-tadzakur-tadzabur, pada tataran melik-melek-melok, dengan jalan hanawu segara, hanyinom pradopo, terus hanyokrokusumo.
Ciri pendekatan kebudayaan
  1. Realitas sosial sebagai alat kontrol politik; ekosistem sebagai alat kontrol hukum, dan budaya sebagai alat kontrol ekonomi.
  2. Supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, yaitu yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur
  3. Gagasan yang lahir di benua selalau ekstrim;
  4. Gagasan yang lahir di kepulauan selalu seimbang; Nyepi di Bali, Nyadran di Jawa; dst …
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa maknanya memelihara dan melindungi ciptaan Tuhan. Pembanguan kita?
  6. Kemanusiaan yang adil dan beradab maknawiyahnya menghargai perbedaan;
  7. Persatuan Indonesia adalah semangat ke-Nusantaraan, nusa diantara 2 benua yang memikul dan dipikul naturnya; kita adalah bangsa bahari yang semangatnya dipersatukan oleh tanah dan air; namun kebudayaan kita berhenti di daratan sehingga bangsa kita mabuk daratan, padahal kita ini bangsa bahari;
  8. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan kristalisasi dari keadaan azali bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris yang komunitarian, dimana agri kultura tak terpisahkan dari kultura animi. Pasar adalah derivasi, sehingga yang primer adalah paguyubannya.
  9. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengajak kita untuk hambeg adil parama arta, berbudi bawa leksana, mamasuh malaning bumi, mangasah mingising budi; untuk mencapai wirya, arta, wasis. Agar jangan sampai salah duduk dalam mendudukkan masalah.
Maka, sangat menarik menkaji tulisan Soedjatmoko yang sangat avangarde: “Pembangunan Ekonomi Sebagai masalah Kebudayaan” , seharusnya Model Ekonomi Kerakyatan harus mengacu pada 3 dimensi utama. Yaitu:

Ciri-ciri Pokok Ekonomi Kerakyatan
  1. Anti kapitalisme
  2. Anti imperalisme
  3. Anti feodalisme
  4. Anti liberalisme
  5. Anti diktatorisme
Watak Ekonomi Kerakyatan
  1. Membela yang lemah
  2. Berketuhanan
  3. Cinta persatuan
  4. Cinta kesatuan
  5. Cinta kemerdekaan
Bentuk Ekonomi Kerakyatan
  1. Melindungi segenap bangsa
  2. Melindungi segenap tanah air Indonesia
  3. Memajukan kesejahteraan umum
  4. Mencerdaskan kehidupan bangsa
  5. Melaksanakan ketertiban dunia

Ditulis oleh Budi Baik Siregar dan Soedarsono Esthu Sa’Tjiptorahardjo <>(Keduanya adalah pegiat Rekonsiliasi di bidang kebudayaan)

Senin, 26 Mei 2008


Memahami Seni Kontemporer dengan jalan Menelusuri Sedikit Jejak Antropologis Seni Pertunjukan Wayang Purwa

Soedarsono Esthu Sa’Tjiptorahardjo*[1]

"Seni adalah kristalisasi dari nilai-nilai artistik yang sublim.”
(Victor Hugo dalam buku: Seribu Tahun Teater).

Kata “seni” sendiri telah diberi makna banyak. Dalam mukadimahnya pada Drama “Cromwell”, Victor Hugo (1827) penyair dari Perancis itu, menulis: “Seni itu suatu tinjauan, suatu lensa. Semua yang terdapat di dunia dapat dan harus dicerminkan di dalamnya. Dengan tongkat wasiatnya, seni, membongkar kembali sejarah, seni memberikan bentuk yang serentak bersifat puitis dan alami, mengisinya dengan unsur-unsur kebenaran serta kejayaan yang melahirkan ilusi ... ilusi yang membangkitkan semangat para penikmat”. Jadi seni, adalah nilai estetis yang sublim.

Kira-kira seabad yang lalu, John Lubbock mengatakan bahwa "seni adalah satu-satunya elemen yang paling murni dan paling tinggi dalam kebahagiaan umat manusia. Ia melatih pikiran melalui mata dan melatih mata melalui pikiran. Seperti matahari memberi warna pada bunga, juga, seni memberi warna pada hidup".

Apa yang diamati Lubbock sangatlah tepat, seni adalah satu kesenangan yang besar dari hidup dan merupakan kebutuhan praktis. Tapi ternyata masih ada orang lain yang mengklaim lebih hebat lagi. Charles B. Fairbank, meyakini bahwa, seni adalah sesuatu yang paling memberi kepastian dan keselamatan pada peradaban. Bukalah galeri seni Anda untuk orang lain, dan Anda memberi kepada mereka keuntungan yang lebih besar daripada sekadar buku pendidikan; Anda memberi mereka kehalusan pada apa yang mereka inginkan yaitu menjadi orang baru yang sama sekali lain. Fairbank meyakinkan bahwa membuka diri untuk seni akan mempunyai pengaruh jangka panjang pada kehidupan, kebudayaan, dan peradaban.

Dari ketiga pendapat di atas, yang menurut saya tidak ada kontradiksi malah sebagai hal yang saling mempertegas, maka, seni sejatinya adalah sebuah wahana untuk mentransformasikan ideologi, ideologi yang hendak memuarakan kepastian-kepastian absolut dari hasil sebuah perenungan tentang tujuan hidup manusia.

Akan tetapi seni yang mampu menembus waktu, mengarungi jaman, dan melintasi universalitas ternyata merupakan seni yang “kontemporer” secara subtantif, bukan pada bentuk. Artinya bahwa isi menjadi sangat penting sebagai tulang punggung yang menegakkan keberadaan seni itu sendiri agar tetap terus berlanjut membawakan misinya yang luhur.

Sebagai sebuah tindak kreatif, seni yang berhasil, atau disapa oleh penikmat, ternyata seni yang tersaji sebagai “upacara bersama”, bukan seni yang dibuat dengan paradigma untuk ditonton. Tentu pendapat ini bisa saja menjadi bias apabila diletakkan dalam diskursus tentang “seni untuk seni”. Toh seandainya paradigma “seni untuk seni” tetap hendak dijadikan sebagai pijakan dalam kita memandang dan menguraikan hakikat dan tujuan seni itu sendiri, maka makna estétika tidak boleh dilepaskan keterhubungannya dengan etika. Jika etika mampu memberi makna pada hidup manusia, maka estétika, akan memberi warna pada hidup manusia. Oleh karena itu, jika cara pandang kita, kita mulai dari sana, mudah-mudahan perdebatan yang tidak perlu bisa dihindarkan.

Apa yang kontemporer?

Jika kontemporer adalah ideologi yang berpegang pada kekinian, maka seni kontemporer mestinya adalah sebuah karya seni yang kontekstual, yang maknanya harus memiliki nilai sebagai upacara bersama. Artinya seni itu sendiri harus mampu menguraikan problematik bersama dan mencari jalan keluar bersama-sama. Di bawah ini penulis sajikan dua persepsi tentang proses berkesenian:

“Bagi Teguh Karya, teater hendaknya dipandang sebagai upacara bersama. Dalam pandangan Teguh, teater di Indonesia adalah teater dandanan, polesan dan cenderung menjadikannya barang tontonan. Para pekerja teater mengarahkan perkembangan teater kita menjadi peristiwa yang harus ditonton. Kenapa mereka tidak melibatkan para penonton dalam upacara bersama-sama? Kalau penonton dilibatkan dalam upacara itu, Teguh yakin, teater itu punya misi tersendiri.

Dalam teater, tidak ada istilah partisipasi. Setiap manusia mengalami dan telah berteater. Tapi sepanjang mereka [maksudnya pekerja teater], masih menganggap dirinya pelaku dan orang lain menjadi penonton, tentu sangat sulit. Buang kesan penonton itu. Mereka adalah kita yang sama-sama merasakan apa yang kita rasakan. Sama-sama menginginkan apa yang kita inginkan. Ini yang terpenting. Ingat! Pada upacara ritual: di mesjid, di gereja, mereka dengan sendirinya terpanggil. Intinya! Jangan kita mendandani teater itu, cukup dengan sajian upacara! Konsepnya adalah: setia, jujur, dan mau belajar. Jangan asal menjadi perajin seni!”

Contoh lain adalah sebuah komunitas seni di Bali.

Pada komunitas Bajra Sandhi, pimpinan Ida Wayan Oka Granoka: proses kreatif kesenian ditujukan kepada, dalam bahasa tradisinya imen-imen pulina, seni sebagai persembahan. Gerakan spiritual dan gerakan budaya melalui seni ini, menjadi inspirasi banyak orang untuk menyadari bahwa seni pertunjukan sangat berkaitan dengan teks sastra, bahwa seni Bali sangat membutuhkan disiplin, kemauan besar dan kerja keras yang menjadikannya tidak sekedar estetis, tapi juga sebagai penghayatan hidup.

Contoh lain lagi misalnya, sebuah kado lukisan dari Amang Rahman untuk 25 Tahun Teater Populer berupa bulan mengambang di mega-mega, dan ada sajak yang ditulis pada bidang kanvas biru gelap langit malam:

Tadi malam

dalam tidurmu

Kau mengigau

menanam kembang

di halaman.

Esok paginya

bermekaran

di

hatiku

Amang Rahman

Jkt 24/10-93

Untuk

Teguh Karya

dan

Teater Populer 25 th.

Sajak Amang Rahman di atas adalah sebuah hasil dari penghayatan hidupnya sebagai seorang pelukis. Betapa sublimnya pengalaman estetis Amang Rahman dalam berteman dengan sesama seniman meski berbeda latar belakang dan bentuk kesenian yang digeluti. Amang seorang pelukis dan Teguh seorang teaterawan.

Jadi seni (pertunjukan) kontemporer mestinya adalah seni yang mentransendenkan cita-cita masyarakat kekinian melalui ikatan batin yang dijalinkan lewat sebuah pertunjukan. Ia mesti menjadi alat ekspresi persoalan-persoalan dan harapan-harapan masyarakat. Mengingat masyarakat yang berkeadilan merupakan tantangan masa lalu, kini, dan yang akan datang, maka ”keadilan” merupakan ”logosentris” bagi masyarakat kontemporer. Oleh karena itu seni kontemporer mesti peka terhadap gejala-gejala masyarakat yang tengah mengalami alienasi baik dari dirinya sendiri maupun dari lingkungannya.

Jika masyarakat moderen, yang, notabene adalah masyarakat yang bukan saja tinggal dalam megapolis-megapolis, tetapi juga dalam megastruktur, maka tesis yang paling tepat untuk menggambarkan masyarakat moderen adalah masyarakat yang tidak lagi mampu melakukan internalisasi. Artinya ia tak lagi memahami siapa dirinya dalam kancah modernitas yang sama sekali tak ia pahami juga. Relevansi, konteks, dan pijakan kesejarahan dirinya terputus oleh hegemoni kapitalisme yang merebut ruang gerak kehidupannya. Ketidakmampuan membatinkan dirinya membuat masyarakat moderen semakin abstrak namun tidak mampu melakukan abstraksi, sehingga ia mengalami kesulitan dalam eksternalisasi diri. Akibatnya ia tertarik ke dalam kutub eksternusnya tanpa bisa lagi kembali ke dalam batinnya sendiri. Jika ruang kesadaran tersebut dibiarkan terus mengalami kekosongan, maka masyarakat moderen akan semakin kehilangan relevansi dirinya terhadap penerusan kebudayaan yang seharusnya semakin menjadi tanggung-jawabnya. Di sinilah tugas seni kontemporer untuk menumbuhkan, mengembangkan media layanan komunikasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, melalui karya-karya, nilai-nilai, atau gagasan-gagasan yang memampukan manusia berdialog, berdebat, dan berkreativitas dengan membebaskan diri dari belenggu nilai-nilai patriarkhis.

Dengan demikian, tugas seni kontemporer tak lain adalah: mengenali, menggali, merekonstruksi, menganalisis, mengartikulasikan, mengkritik, mengapresiasi, mengemas, dan memediakan apa yang tengah menjadi kegelisahan masyarakat moderen untuk paling tidak dicarikan jalan tengah emas, via media aura, melalui penyingkapan Realitas Indonesia di balik gunung, di lembah, di padang rumput, di tengah hutan, di tengah laut, di setiap tempat yang kaya makna dan magis. Masyarakat moderen harus dibantu mengatasi disfungsi komunikasi agar dapat menyandarkan diri pada Realitas Indonesia. Sebaliknya sektor alamiah yang kaya ide dan perspektif penting didorong mengorganisir diri, sehingga menemukan kambali élan vital-nya. Intinya, kekuatan sektor moderen [infrastruktur] mesti dipersambungkan dengan kekuatan sektor alamiah [ide dan perspektif]. Di sini, seni kontemporer diharapkan mampu menjadi mak comblang, perantara, untuk mengkolaborasikan moderenitas dan naturalitas agar mencuatkan ragam dan perspektif baru.

Karena itu, seni kontemporer ditantang untuk menemukan model komunikasi yang rekonsiliatif dalam lapangan kesenian, melunakkan kontras dan mendekatkan sentimental unsur dual, yaitu modernitas dan naturalitas, agar menjadi sebuah karya pertunjukan yang mampu mengembalikan kesadaran masyarakat moderen ke dalam sarangnya.

Dalam masyarakat moderen, romantisme diselesaikan begitu saja tanpa corak didaktis, sehingga perumusan problematik, tindak perenungan, proses menemukan gagasan, dan merefleksikan pengalaman tidak tersemaikan sebagai proses dialektika. Maka, dinamika yang seharusnya merupakan hasil refleksi atas pengalaman sosial dari panggung apresiasi publik tidak pernah lahir. Kemandegan tersebut harus diatasi melalui dialog kultural yang mampu mensinergikan antara yang formal dan yang material.

Mencari antitesis

Dalam seni (pertunjukan) pada umumnya, hal yang bersifat formal adalah kesenian itu sendiri, sedangkan yang bersifat material meliputi ideologi, cita-cita atau suprastruktur, dan infrastruktur (sumberdaya manusia, keilmuan, sarana-prasarana). Dalam seni tradisi seperti wayang kulit, masalah infrastruktur telah selesai begitu sebuah perkumpulan mengikrarkan diri. Sedang pada tataran suprastruktur adalah menjadi tugas sang dalang untuk selalu memperbaharui tafsir dan cara mentransformasikan lakon (sanggit) agar selain enak ditonton juga kaya akan ”piwulang”. Menjaga kontekstualitas dengan persoalan-persoalan makro maupun mikro telah mentradisi dari jaman ke jaman. Sehingga pertunjukan wayang kulit sebenarnya merupakan alat yang sangat ampuh untuk mentransformasikan masalah-masalah masyarakat kontemporer. Stanislavski, aktor dan sutradara termasyhur dari Rusia berucap:

”Direction is a job, a craft, a profession, and at best, an art. The director must be an organizer, a teacher, a politician, a physic detective, a lay analyst, a technician, a creative being. Ideally, he should know literature (drama), acting, the psychology of the actor, the visual art, music, history, and above all, he must understand people. He must inspire confidence. All of witch means he must be a “great lover.” The role of director is becoming more and more complex. Politics is an integral part of our lives now. This means that the director’s horizon includes the government’s structure, the problems of our society. It means that we, the directors of the theatre, have much more responsibility and must develop a broader way of thinking. A director cannot limit his role to being a medium between author and audience. He cannot be just a midwife, merely assisting at the birth of the performance. The director must be independent in his thinking and must arouse with his work the ideas necessary to contemporary society.”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa seni pertunjukan di belahan dan ujung dunia manapun memiliki kesamaan pendekatan. Seni mendalang yang mewakili dramaturgi Jawa (wayang purwa), memiliki kesamaan dengan Stanislavski (yang mewakili dramaturgi barat). Bedanya dalam dramaturgi barat pertunjukan berbasiskan pada ruang, waktu, dan peristiwa, pada wayang kulit bagaimana meruang, mewaktu, dan memeristiwa. Kesamaan semiotika tersebut menandakan bahwa ada masalah universal yang harus dipecahkan oleh seni kontemporer bukan hanya pada perluasan wawasan saja melainkan sampai pada pembentukan paradigma yang bisa memberikan sumbangan secara investigative terhadap proses penemuan, invention.

Dalam pertunjukan wayang purwa kita mengenal pathet nem, pathet sanga, pathet lindur, dan pahtet manyura. Pathet, selain membagi waktu juga membingkai ruang dan peristiwa. Pada pathet 6, dari jam sembilan malam sampai jam duabelas malam adalah ruang tempat membeberkan persoalan. Dan yang menjadi persoalan adalah sejarah. Sejarah di sini bisa sejarah tokoh tertentu, sejarah negara tertentu, atau sejarah klan, wangsa, tertentu. Pathet 9, jam 12 malam sampai jam 2 dini hari, pathet lindur dari jam 2 dini hari sampai jam 3, pathet manyura dari jam 3 sampai jam 5 pagi menjelang subuh.[2] Jadi dalam pertunjukan wayang purwa, peristiwa membingkai dialektika, dan waktu (pathet) berfungsi mentransformasikan dinamika. Di sana, prolog, logos, dan epilog telah terbakukan secara tradisi tetapi anehnya malah mudah mencair dan masuk ke dalam ruang kontemporer dengan sangat mudah. Hal ini menandakan bahwa aras natural (untuk menghindari kata tradisi), yang dalam realitas moderen merupakan wajah lama konvensi seni tradisi, justru bisa dibawa ke dalam nilai-nilai baru yang penuh kemungkinan. Lingkaran konvensi tradisional yang begitu kokoh dan sensitif, ternyata dapat disentuh naluri kebebasan moderen. Dengan kata lain, pertunjukan Wayang Purwa yang sudah dimulai berabad-abad lalu ternyata selalu bisa beradaptasi dengan kemajuan peradaban dan teknologi, dan selalu berwajah kekinian. Berikut petikan lain yang tak kalah penting.

(”Wayang, mempunyai peranan besar dalam mewujudkan rekonstruksi kosmis, selain cerita dan permainan. Wayang merupakan ritus konstruksi prahistoris dari sebuah negara dan masyarakat. Pertunjukan wayang dianggap merupakan rekonstruksi perwahyuan rahasia-rahasia semesta terhadap masyarakat yang menyelenggarakan wayang. Dalam pertunjukan itu, masyarakat mengingat kembali arwah leluhur yang telah mengatasi penderitaan-penderitaan dan kemudian hidup dalam alam kelanggengan. Menurut Prof. Hidding, pertunjukan wayang bertujuan untuk mengadakan hubungan dengan kuasa-kuasa yang menguasai kehidupan. Dalang menghantar masyarakat penanggap beserta segala makhluk untuk berhubungan dengan para roh, kehidupan gaib dan dalam pewahyuan rahasia semesta alam, manusia memasuki perenungan yang mendalam tentang kehidupan. Dalang dalam pertunjukan itu mempunyai peranan penting. Ia adalah penyaji refleksi kehidupan masa lampau, masa kini dan petunjuk untuk masa depan bagi masyarakat. Refleksi itu disampaikan kepada masyarakat (penonton). Dalang juga membeberkan kritik, ramalan dan analisa kepada masyarakat lewat lakon-lakon yang dipegangnya. Masyarakat mendengarkan uraian Ki Dalang, bukan sebagai mendengarkan orang yang pandai berbicara, melainkan lebih sebagai mendengarkan pewahyuan dari alam gaib tentang kehidupan yang sudah, yang sedang dan yang akan dialami masyarakat.”)[3]

Dalam kashanah tari jawa misalnya, ada tataran penguasaan teknis dari tahap birasa, birama, ke biraga. Dalam konstruksi teori: birasa hanya bisa dicapai melalui penguasaan tradisi, birama dicapai melalui penguasaan modernitas (metoda yang efektif dan efisien), dan biraga memadukan keduanya. Pada proses ini akan terjadi ketegangan. Persoalannya bagaimana kita bisa meluruhkan ketegangan itu?

Caranya adalah melalui spirit budaya (tradisi) itu sendiri. Seni kontemporer harus terus-menerus berusaha menumbuhkan konvensi, transformasi, rekonsiliasi, dan inovasi, baik secara teknis maupun dalam hal pengembangan wawasan. Dan di atas kedua gabungan itu, ”sang seniman harus tahu apa yang terbaik yang bisa dia berikan kepada masyarakat dan negerinya yang dia kenal betul. Bakat, ilmu, dan wawasan yang telah dimiliki akan tetap menopangnya di dalam menjalankan intelektualitasnya sebagai seniman. Sehingga, seni yang dibuat lewat kesadaran semacam ini akan terasa dekat dengan negeri dan masyarakat dimana seorang seniman berfungsi menjadi teman seperjalanan mereka. Fungsi ekonomi mengikuti dari belakang.” (Teguh Karya dalam buku 25 Tahun Teater Populer: 1968-1993)

Jika demikian halnya maka tugas seni kontemporer haruslah mampu membangun ”kesinambungan” proses membuat kesenian tradisi agar selalu menemukan nilai-nilai barunya; agar ia hadir bukan sebagai barang antik kehidupan moderen, tetapi sebagai cermin proses sejarah dan sebagai roh tindak laku kontemporer.” (Suka Hardjana dalam buku: Musik Antara Kritik dan Apresiasi, hal. 64: Penerbit Buku Kompas, Jakarta Juli 2004). Disini jelas sudah apa yang menjadi misi seni kontemporer, tidak lain adalah membantu masyarakat moderen menemukan kembali kesadarannya. Jika diantara mereka ada yang mampu menemukan tujuan, martabat, cinta kasih, dan kegembiraan, yang tidak lain adalah “hidup yang baik”, itu berarti masih ada harapan bagi kita untuk meretas jalan ke arah kemajuan. Jika proses Menjadi Indonesia diasumsikan sangat ditentukan oleh dinamika sektor moderen, dan jika sektor moderen merupakan arena hegemoni yang selalu terbuka sepanjang zaman, maka hegemoni dapat menjadi salah satu strategi pokok mendorong tumbuhnya “campur sari” Kebudayaan Indonesia. Kekayaan ide dan perspektif di sektor ”natural” yang sebagian besar mungkin telah berantakan atau terkoyak-koyak, mestilah diusung memasuki arus utama wacana di sektor moderen.

Kesimpulan

Sebagai penutup saya akan kutipkan Kisah Odiseus:

"Odiseus, raja Ithaka, demikian kisah yang ditulis penyair Homerus itu, bermaksud kembali ke kampung halamannya seusai perang Troya. Dalam perjalanan pulangnya, dia beserta para pengiringnya mengalami tantangan demi tantangan.

Demikianlah, ada para Sirena yang memikat dengan suara merdu, para pemakan teratai, raksasa bermata satu Polifemus, dan seterusnya. Pada awalnya mereka selalu terseret dalam pesona itu, tapi berkat kecerdikan Odiseus, mereka terbebas dari pesona itu, sampai akhirnya mereka terdampar ke kampung halamannya yang tidak lagi seperti dulu. Odiseus yang tidak kerasan lagi di kampung halamannya, memilih untuk bertualang entah ke mana."

Ini adalah kisah tentang "rindu kampung halaman". Namun ada hakikat yang dalam pada tokoh Odiseus. Ia idiom pengembaraan subyektivitas yang mengarungi samudera fenomena modernisasi, yang terus-menerus membebaskan diri dari pesona mitis dengan penyangkalan diri untuk kembali ke daratan makna yang ternyata tidak juga dicapainya. Mitos ini merupakan kisah tentang "homesickness", rindu rumah yang tak tersembuhkan yang sekaligus mendorong pengembaraan tanpa akhir. Pengembaraan itu, kisah dalam mitos itu, adalah sejarah. Setiap kali subyektivitas mampu mengatasi keterpesonaannya, dia merasa lega, namun perasaan lega ini diiringi dengan perasaan hampa ketercerabutan.

Demikianlah moderenisasi adalah emansipasi yang disertai erosi makna, pembebasan dari mitos yang berubah menjadi dominasi rasio mental. Alur pengembaraan subyektivitas moderen ini tak kurang dari jalin-menjalinnya mitos dengan logos secara silih berganti.

Hanya soalnya, dalam modernisasi, kesukaran mencapai momen sintesis ini menghasilkan berbagai macam pengalaman negatif, seperti: alienasi, hilangnya makna, impersonalisasi, disorientasi, dan seterusnya.

Kutipan di atas sangat pantas untuk dijadikan titik tolak memahami masyarakat moderen yang rindu kampung halaman namun kesadarannya tak bersarang. Seni kontemporer harus mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari gelombang pasang-surut manusia moderen yang mengalami erosi makna, agar seni bisa mengambil fungsi dan peran sebagai cerminan yang membawa sikap jujur tentang suatu masyarakat. Seni kontemporer harus menjadi wakil yang bisa menguraikan kepentingan dan persoalan spirituil manusia moderen sehingga memenuhi fungsi sosial dan fungsi budaya masyarakatnya. Oleh karena itu, kita mesti menguasai budaya, sebab seni kontemporer pada dasarnya adalah bagian dari kerja teknik dan kesenian sebagai daya ungkap budaya.

Teater Populer, 18 Agustus 2007



[1] Penulis adalah pendiri Sekolah Maya, Guru Tetap pada Bengkel Teater Rendra, pegiat dalam Program-program Rekonsiliasi. Dan sekarang tengah menulis: “Konstruksi Teori Sejarah Pemikiran Teguh Karya dalam Mewarnai Nasionalisme Indonesia.”

[2] Pembagian waktu pathet ada beberapa pendapat yang berbeda, namun salah satu sumber menyebutnya seperti itu.

[3] Mca. Maharsono Probho: Segi Sosio-Kultural Masyarakat Pedesaan Jawa Selayang Pandang. Dalam Majalah DRIYARKARA N0.: 2 & 3, Tahun XI, Mei 1984, halaman 60.